Bogor (28/11) – Balai POM di Bogor kembali memperkuat edukasi publik melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) bersama tokoh masyarakat yang digelar pada 26 dan 28 November 2025 di Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI, drh. H. Achmad Ru’yat, M.Si, sebagai narasumber utama, didampingi oleh Kepala Balai POM di Bogor serta Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) Balai POM di Bogor.
KIE ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perlindungan konsumen Obat dan Makanan, khususnya terkait isu-isu aktual seperti Antimicrobial Resistance (AMR), Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin edar, Kedaluwarsa), Cek Bebas (Bentuk, Bau, Warna, dan Rasa), keamanan pangan, serta pemanfaatan BPOM Mobile sebagai sarana pengecekan izin edar serta informasi dan pengaduan.
Sebagai salah satu materi utama, narasumber memberikan penjelasan mengenai Antimicrobial Resistance (AMR) yang saat ini menjadi isu kesehatan global. AMR terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur menjadi kebal terhadap antimikroba sehingga pengobatan tidak lagi efektif. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada manusia, hewan, maupun lingkungan mempercepat terjadinya resistensi. Jika tidak ditangani, AMR diprediksi menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan dunia, di mana angka kematian akibat AMR dapat mencapai 10 juta jiwa per tahun pada tahun 2050. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter, menggunakan obat sesuai aturan, dan menyelesaikan terapi hingga tuntas. Pemahaman dan kewaspadaan terhadap AMR menjadi kunci dalam mencegah munculnya infeksi yang semakin sulit diobati.
Dalam paparannya, drh. H. Achmad Ru’yat, M.Si menegaskan pentingnya kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media massa dalam mewujudkan peredaran obat dan pangan yang aman. Beliau menyoroti bahwa upaya keamanan pangan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan harus melibatkan seluruh unsur agar pengawasan dan edukasi dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat perlindungan konsumen serta menciptakan ekosistem pangan yang sehat dan aman bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Balai POM di Bogor menyampaikan komitmen Balai POM dalam memperluas jangkauan edukasi melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Beliau menekankan pentingnya gerakan Cek KLIK untuk produk obat dan makanan terkemas serta Cek Bebas untuk olahan pangan siap saji, guna mendorong konsumen menjadi lebih cerdas, kritis, dan mampu melindungi diri dari produk ilegal maupun tidak aman.
Tim Infokom Balai POM di Bogor juga memberikan sosialisasi teknis mengenai BPOM Mobile, aplikasi resmi yang memudahkan masyarakat memeriksa legalitas produk, melakukan pengaduan, serta mengakses informasi pengawasan obat dan makanan secara digital.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Balai POM di Bogor dan Komisi IX DPR RI meneguhkan komitmen bersama untuk terus meningkatkan literasi masyarakat dalam memilih obat dan makanan yang aman, bermutu, dan bermanfaat. Kegiatan ini juga menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan edukasi publik di era digital serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengawasan keamanan pangan dan obat.-KAS