Bogor. Selasa (05/05/2026) –Kepala Balai POM di Bogor, Jeffeta Pradeko Putra, S.Farm., M.Si. bersama tim berkesempatan hadir memenuhi undangan dari Dekan Fakultas Farmasi Militer, Universitas Pertahanan RI., Prof. Dr. Apt. Yahdiana Harahap, M.S. di Kampus BTI, Unhan pada hari Selasa, tanggal 05 Mei 2026. Pertemuan yang juga dihadiri Brigjen TNI Dr. apt. Adi Priyono, M.Kes. (Wakil Dekan 1), Wakil Dekan 2, Wakil Dekan 3 dan para dosen ini, diselenggarakan dalam rangka koordinasi potensi kerja sama hilirisasi riset farmasi militer Unhan RI dalam inovasi Balai POM di Bogor, yaitu GROW (Green Research and Opportunities With) BPOM.
Prof. Yahdiana dalam presentasinya tentang profil Fakultas Farmasi Militer (FFM), Unhan RI, menyampaikan bahwa Unhan RI merupakan kampus bela negara yang menjunjung tinggi identitas, nasionalisme, dan integritas, serta terdapat 2 (dua) program studi di FFM, yaitu pendidikan profesi apoteker dan sarjana farmasi. Kedua program studi ini telah berhasil memperoleh Akreditasi Unggul PTKes untuk 5 (lima) tahun (2026-2031). Fakultas Farmasi Militer juga memiliki fasilitas laboratorium yang mumpuni, sarana prasarana perkuliahan, berbagai hasil riset dan kolaborasi kerja sama yang sudah terjalin dengan berbagai pihak, termasuk dengan Badan POM. Oleh sebab itu beliau menyambut baik kolaborasi dengan Balai POM di Bogor untuk mempercepat hilirisasi hasil riset farmasi militer dan kegiatan-kegiatan untuk pengabdian masyarakat. Pertemuan bersama Prof. Yahdiana Harahap selaku Dekan Fakultas Farmasi Militer UNHAN RI beserta jajaran membahas berbagai potensi inovasi produk hasil riset yang siap didorong menuju hilirisasi dan pemanfaatan bagi masyarakat, antara lain kosmetik berbahan lidah buaya, paper shampoo, tabir surya, disclosing solution, hingga foot deodorizer.
Kepala Balai POM di Bogor juga memaparkan inovasi GROW BPOM yang siap mengawal hilirisasi Universitas Pertahanan yang di antaranya terdapat kosmetik berbahan lidah buaya, paper shampoo, tabir surya, disclosing solution, hingga foot deodorizer. Proses hilirisasi masih menjadi tantangan bagi akademisi agar hasil riset dapat dimanfaatkan dan dikomersialisasi. Dibutuhkan integrasi sejak awal dengan aspek regulasi dan industri, serta regulasi dan pendampingan karena banyak peneliti belum memahami persyaratan registrasi produk. BPOM diharapkan berperan dalam pembinaan sejak tahap awal penelitian. Semoga sinergi antara akademisi, pemerintah, dan regulator semakin mempercepat lahirnya inovasi kesehatan yang aman, bermutu, dan bermanfaat bagi Indonesia. Selain itu pembahasan dilanjutkan dengan program pengabdian masyarakat seperti penyuluhan anti penyalahgunaan OOT dan Psikotropika, Pengembangan SDM dan program-progam strategis lain, -EN